Inikah Hijrah? (2) : Muslimah dan Modeling

Sudah 6 tahun saya memakai jilbab dan 3 tahun berkecimpung di dunia modeling. Saat itu saya memakai jilbab hanya untuk memenuhi kewajiban seorang muslimah tanpa tahu tujuan dari jilbab itu sendiri. Minimnya ilmu yang saya miliki mengenai bagaimana seharusnya seorang wanita dalam Islam, membuat saya tetap menjalani profesi saya sebagai model muslimah, bahkan hingga mendirikan agensi dan manajemen model muslimah di Bandung.

Pakai jilbab untuk apa tujuannya? Tentu jawabannya kembali pada masing-masing personal. Tapi bagi profesi yang saya jalani, ini menjadi hal yang kontradiktif. Modeling pada dasarnya dibuat untuk menarik perhatian orang sedangkan tujuan hijab adalah supaya wanita tidak dilihat oleh lawan jenis. Dalam modeling, seorang model sudah pasti memperlihatkan kecantikan kepada lawan jenis yang bukan mahram. Kita tidak bisa mengontrol kaum pria yang melihat kita untuk menundukkan pandangannya. Namanya pria, bisa saja syahwatnya bangkit walaupun wanita yang dilihatnya berbalut pakaian tertutup. Model baju yang kita peragakan pun tidak semuanya syari dan terkadang masih memperlihatkan lekukan tubuh kita. Memang, itu menjadi kekhilafan kaum pria karena tidak bisa menjaga hawa nafsunya, tapi kita pun sudah turut menyulut.

Dunia modeling erat kaitannya dengan tabarruj. Apa itu tabarruj?

Tabarruj adalah tindakan seorang wanita yang menampakkan kecantikannya kepada orang lain yang bukan mahram. Yang dimaksud menampakan kecantikan, yaitu berpakaian yang menarik perhatian, memperlihatkan aurat yang tidak biasa tampak dan memperlihatkan perhiasannya. Syaikh Abdul Aziz bin Bazrahimahullah berkata, “Perhiasan wanita yang dilarang untuk dinampakkan adalah segala seuatu yang disukai oleh laki-laki dari seorang wanita dan mengundangnya untuk melihat kepadanya. Baik itu perhiasan (keindahan) asal (anggota badan mereka) maupun perhiasan yang bisa diusahakan (perhiasan tambahan yang menghiasi fisik mereka) yaitu semua yang ditambahkan pada fisik wanita untuk mempercantik dan menghiasi dirinya

Jika definisi tabaruj seperti yang disebutkan diatas, maka sesi foto dengan model dan  peragaan busana sudah tentu penuh dengan tabarruj. Setiap model pasti berdandan full make-up,  mencukur alis, memasang  bulu mata palsu, memakai busana yang belum tentu syari, berpose untuk difoto dan dipublikasikan di berbagai media. Atau berlenggak lenggok diatas panggung, kemudian ditonton oleh puluhan bahkan ratusan pria yang bukan mahramnya.

Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Semoga Allah melaknat orang yang mentato, yang minta ditato, yang mencabut alis, yang minta dikerok alis, yang merenggangkan gigi, untuk memperindah penampilan, yang mengubah ciptaan Allah. (HR. Bukhari 4886).

 Syaikh Abdullah Bin Abdurrahman al-Jibrin menyampaikan dan mendiktekan “…Jika Nabi telah melarang menyambungkan rambut dengan rambut lainnya (memasang rambut palsu) maka memasang bulu mata pun tidak boleh. Juga tidak boleh memasang bulu mata palsu karena alasan bulu mata yang asli tidak lentik atau pendek.…” (Sumber : Fatwa-Fatwa Terkini jilid 3, hal.80-81 cet, Darul Haq, Jakarta.)

Ini tidak jadi soal jika modelnya bukan muslim, tapi bagaimana dengan model muslimah apalagi yang sudah berjilbab? Bagamana pandangan masyarakat luas terhadap Islam jika melihat model muslimah berjilbab berlenggak lenggok?  Seorang teman non-hijab pernah nyeletuk menanggapi fenomena ini “Jadi bedanya gw dengan yang berjilbab, Cuma ga pake kerudung doang ya? Akhlaknya mah sama aja”. Seketika itu juga saya miris mendengar kalimat itu. Apa iya kami dipandang seperti itu? Apa iya kami sudah mencoreng Islam tanpa kami sadari? Ironisnya, inilah yang sekarang banyak kita lihat dalam kehidupan harian kita.

 Awalnya, saya berpikir untuk tetap menjalani profesi sebagai model dengan syarat tidak menggunakan bulu mata palsu, tidak dicukur alisnya dan menolak fotografer atau make-up artist pria. Ternyata itupun belum cukup. Semakin saya mencaritahu, semakin hati saya gelisah.

 “Jika seorang wanita berhias dimaksudkan untuk orang selain suaminya, maka Allah akan membakarnya dengan api neraka, karena berhias untuk selain suami termasuk tabarruj dan dapat mengundang hawa napsu birahi laki-laki” (Uwaidah ,Syaikh Kamil Muhammad. Fiqih Wanita Edisi Lengkap. 2015)

Ternyata, sebesar itu dosa yang saya dapatkan dengan menjadi seorang model. Apalagi saya memiliki agensi model muslimah, mengajari adik-adik sesama muslim yang masih polos untuk berpose, berhias, berlenggak-lenggok, dan melatih mereka untuk tampil percaya diri di depan yang bukan mahram.

Astagfirullah. Seketika itu juga saya langsung teringat siksa kubur. Mungkin inilah salah satu penyebab mayoritas penghuni neraka adalah wanita. Naudzubillah. Ampuni aku, Ya Allah.

“Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :“Aku melihat ke dalam Surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas dan Imran serta selain keduanya)

Islam dan modeling memang tidak pernah sejalan. Yang satu berteriak meminta perhatian, sedangkan yang lainnya menjaga diri agar tidak diperhatikan. Namun, bukan berarti kita terbatas dalam berkreasi dan berkarir. Islam justru memiliki aturan yang memudahkan kaum hawa, kita lah yang harusnya berubah untuk mengikuti aturan Islam, bukan mencari celah dan pembenaran dalam aturan Islam dan membuat aturan itu sesuai dengan gaya hidup kita. Memiliki profesi boleh saja, tapi bukankah lebih baik jika profesi dan karir kita sesuai dengan ajaran Islam? Profesi yang justru membuat wanita lebih terlindungi dan diperlakukan seperti ratu? Layaknya ratu, tidak sembarang orang dapat bertemu dengan ratu, tidak sembarang orang dapat melihat ratu, tapi semua orang menghormati dan menunduk ketika sang ratu hadir.  Itulah posisi wanita dalam Islam.

Ataukah kita tetap memilih diperlakukan sama rata dengan kaum pria? Berbaur dengan yang bukan mahram, pergi safar tidak bersama mahram untuk bekerja diluar dan dilihat sembarang pria?

 

لأن الله قال -جل وعلا-: وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى[الأحزاب: 33]،

Dan tinggallah kalian wahai para wanita di rumah kalian dan janganlah kalian ber-tabarruj sebagai tabarruj ala jahiliah dulu”(QS al Ahzab:33).

Perintah diatas tidak hanya ditujukan kepada istri nabi tetapi juga kepada seluruh wanita muslimah. Jika istri nabi saja dilarang bertabarruj apalagi kita wanita biasa yang hatinya masih dipenuhi syahwat dunia. Banyak orang berhias diri berlebihan dan mengatakan yang dia lakukan bukanlah tabarruj karena dasar hadist yang menyatakan bahwa Allah menyukai keindahan. Tetapi apakah keindahan yang disukai Allah sama dengan keindahan yang disukai kita? Apakah sama dengan wanita yang berlomba-lomba ingin terlihat indah agar diperhatikan orang banyak?

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar debu.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim)

Sesungguhnya keindahan menurut Allah adalah indah hati dan fisik yaitu indah dalam berperilaku dan  bertutur kata. Sedangkan secara fisik, kita dapat memperindah diri sesuai sunnah fitrah dan berhias dengan pakaian bagus dalam batas-batas yang dibolehkan dan dihalalkan syariat. Bukan dengan memakai make-up berlebihan dan pakaian mencolok dengan tujuan untuk popular atau minta diperhatikan. Janganlah kita mencari pembenaran atas hadist shahih yang kita temui.

 

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raf: 26).

Dulu saya berpikir ingin menginspirasi orang lain agar mereka tertarik menggunakan jilbab dengan memamerkan busana yang saya kenakan. Tapi apakah inspirasi yang saya berikan sudah benar? Sombongnya saya menganggap diri ini sudah sempurna hingga bisa menjadi panutan orang lain. Ilmu yang saya miliki saja masih sekecil biji jagung, berani-beraninya mau jadi inspirasi orang lain. Astagfirullah.

Sekedar berhenti modeling ternyata tidak cukup untuk menjadi muslimah yang lebih baik. Perjalanan untuk menjadi seorang ratu masih sangat panjang. Dalam keseharian, saya masih berjuang untuk menjalani perintahNya. Allah telah memberi saya berjuta nikmat dan berkah dalam hidup saya, tapi sebagai balasannya, saya malah memilih profesi yang menjerumuskan diri sendiri ke dalam api neraka. Ampuni aku, Ya Allah.

Satu hal yang saya yakin, Jika seorang hamba berkehendak, Allah akan memudahkan jalan baginya. Walaupun itu artinya harus mundur selangkah untuk maju 1000 langkah. Walaupun harus melepaskan tawaran duniawi menggiurkan yang menghampiri. Walaupun harus kehilangan teman di dunia kerja sebelumnya.  In Shaa Allah, semua akan digantikan dengan yang lebih baik olehNya. Karena Segala sesuatu yang baik butuh perjuangan dan pengorbanan.

Tidak ada maksud untuk menggurui dalam tulisan ini, sekedar berbagi dari apa yang saya alami dalam proses memperbaiki diri. Semoga kita dapat mengambil hikmah dan manfaat dari tulisan ini. Tulisan kasih sayang bagi sesama saudara muslimah untuk menggapai jannah. Wallahualam

 

 

Sumber:

Al Quran dan Terjemahannya. Penganjur untuk mecetak Al Quranul Kari mini adalah: Khadim Al Haramain Asy Syarifain (Pelayan Dua Tanah Suci) dan Abdullah bin Abdul Aziz Ali Sa’ud, Raja Kerajaan Arab Saudi.

Uwaidah ,Syaikh Kamil Muhammad. Fiqih Wanita Edisi Lengkap. 2015

https://almanhaj.or.id

https://khotbahjumat.com

http://asysyariah.com/

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Inikah Hijrah? (2) : Muslimah dan Modeling

  1. Halo teh Rhily. Saya fira, mahasiswa umu 19thn. Sedikit cerita, Saya baru saja akan memulai dunia permodelan. Jujur saya jd “berpikir kembali” untuk memulai menjadi seorang model setelah baca tulisan teh rhily. Saya berhijab juga sudah dr tahun 2012 tetapi memutuskan untuk “fix” berhijab br tahun 2015 krn sebelumnya selalu lepas pasang . Namun selalu ada nafsu dlm diri saya buat lepas lagi hijab, karena sampai sekarang saya kadang masih gak pd buat berhijab dan saya berpikir bahwa dengan jd model disitulah saya bisa pd dan terlihat cantik pakai hijab:( padahal saya sendiri sudah tau jd model itu pasti tidak akan sejalan dengan islam. Pesan dr Teh Rhily, gimana ya teh supaya ter-midset, saya tetap PD untuk berhijab bahkan sampai berhijrah seperti Teh Rhily tanpa gak harus jd model? Menurut teh rhily sendiri, apakah akan ada “sejalannya” antara dunia model dengan islam? Terimakasih teh:))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s