Inikah Hijrah?

Hijrah. Sebuah kata yang marak akhir-akhir ini dan menjadi topik perbincangan pada banyak kalangan. Memiliki makna yang berbeda pada setiap individu, dan identik dengan perubahan mencolok pada penampilan seseorang dari sebuah golongan. Walaupun, mungkin arti sebenarnya lebih dalam dan jauh berbeda daripada sekedar perubahan penampilan. Saya sendiri masih belajar dalam memaknai arti hijrah ini. Sejauh pengetahuan saya, hijrah ada tiga macam, yaitu hijrah tempat, hijrah amal (perbuatan) dan hijrah amil (orang yang berbuat). Perjalanan hijrah kecil saya adalah hijrah amal dan terjadi di dalam batin, bukan berawal dari penampilan dan tentu masih jauh dari hijrah yang sempurna. Saya mendapatkan hidayah di tengah-tengah kenikmatan duniawi. Dan proses hijrah ini memakan waktu sekitar satu tahun.

Sekilas mengenai masa lalu, sejak SMP saya tertarik dengan dunia musik dan mulai bikin band dengan teman-teman sekolah. Hal ini berlanjut hingga kuliah. Predikat anak band telah melekat dalam diri saya sejak dulu. Dunia musik tidak bisa selalu dikatakan positif, apalagi ketika itu jenis musik yang saya mainkan beraliran cadas. Saya tidak bilang musik cadas itu merusak, tetapi dari pengalaman saya selama ini, saya lebih sering melihat keburukan dibanding kebaikan di setiap pagelaran musik cadas. Walaupun, ada beberapa jenis musik cadas tertentu yang menyuarakan prinsip serta gaya hidup yang lebih baik seperti straight edge.

Sekitar lima tahun lalu, saat mengerjakan thesis dan persiapan menikah, saya masih aktif ngeband. Orangtua dan calon suami pun mendukung, mereka percaya saya bisa menjaga diri sendiri. Tetapi justru sayalah yang  tidak percaya pada diri saya sendiri. Saya merasa gelisah, seolah ada sesuatu yang kurang dan hilang. Lalu muncul perasaan tidak nyaman dan jenuh. Aneh, tapi saat itu saya merasa iri ketika melihat wanita-wanita berjilbab, seakan mereka semua memiliki tatapan teduh dan ketenangan batin yang saya idamkan.

Sebelumnya, seorang teman merekomendasikan sebuah novel karya Habiburrahman El-Shirazy berjudul Ayat- Ayat Cinta (saran saya sebaiknya baca bukunya saja, tanpa perlu menonton film layar lebarnya). Ternyata, banyak pelajaran yang bisa saya ambil melalui novel pop islami tersebut. Penulis menceritakan dengan sangat indah mengenai bagaimana perempuan dan laki-laki sebaiknya berinteraksi menurut ajaran Islam. Sudah seharusnya seorang wanita sangat dihormati dan diperlakukan dengan santun, tidak seperti apa yang sering kita lihat dalam kehidupan modern budaya barat saat ini.  Salah satu tokoh dalam novel membuat saya sadar untuk mulai menutup aurat . Alicia, seorang reporter Amerika yang berpakaian minim dan ketat, bermetamorfosis mengenakan jilbab setelah melalui wawancara dengan tokoh utama, Fahri, mengenai kedudukan dan peran perempuan dalam Islam. Saya seperti bercermin ketika membaca kisah Alicia, karena saya pun berada dalam masa pencarian dan masih berpakaian minim dalam keseharian. Tersentuh oleh cerita novel itu, saya mulai tertarik untuk mempelajari Islam lebih dalam. Sayangnya, butuh waktu sekitar satu tahun untuk memutuskan berjilbab. Itupun setelah melewati beberapa bulan dengan perasaan tidak nyaman dan malu pada diri sendiri. Saya berjilbab tanpa persiapan memiliki pakaian muslimah atau kerudung baru, hanya bermodalkan keinginan untuk menjadi lebih baik dan memohon ampunan. Cukup dengan niat, cardigan dan shawl yang ada di lemari saya.

Tiga tahun berlalu, saya menemukan minat dan bakat baru ketika mengikuti sekolah modeling cukup ternama di Bandung. Di sekolah tersebut saya bertemu dengan dua orang pengajar yang kemudian menjadi teman baik dan mendirikan sebuah agensi model muslimah, bernama Lumina Bandung. Tujuan kami adalah untuk mewadahi para model berjilbab dan mensyiarkan Islam melalui dunia modeling. Membangun Lumina Bandung dari nol, menambah kepercayaan diri saya untuk berkarir di bidang ini. Kami seperti memiliki bayi baru. Fokus dan seluruh energi kami curahkan untuk membangun agensi model muslimah ini. Audisi dan workshop rutin kami jalani. Mulai dari hanya tujuh model, kemudian bertambah menjadi 30 model Lumina. Ternyata, bukan hanya sekedar sebuah agensi model, tapi kami membangun sebuah keluarga besar. Ikatan yang kami miliki lebih dari sekedar rekan kerja, kami menjadi saudari antara satu dengan yang lain. Saling membantu dan mendukung apabila salah satu dari kami terpuruk dan ikut bersukacita akan kabar gembira yang dialami oleh salah satu diantara kami.

Ternyata, usaha kami berjalan sinergis dengan pertumbuhan brand busana muslim lokal yang semakin menjamur terutama di Kota Bandung. Menanggapi permintaan pasar akan kebutuhan model muslimah, tanpa kami sadari Lumina Bandung melesat dan berkembang pesat. Kami bahkan sempat bekerjasama dengan beberapa desainer ternama Indonesia. Selama hampir dua tahun Lumina Bandung berdiri, saya mengalami proses hijrah batin untuk kedua kalinya dalam hidup saya. Memang tidak bisa dikatakan hijrah yang sempurna, tapi perjuangan yang saya lalui membutuhkan keberanian dan keyakinan yang kuat. Seiring pesatnya kemajuan Lumina Bandung, saya dan dua pendiri lainnya pun berkembang dalam ilmu agama.  Masing-masing dari kami mengikuti pengajian/tempat kajian yang berbeda, tetapi dengan ijin Allah, kami mendapatkan hidayah di waktu yang bersamaan. Masha Allah!

Semakin lama menjalani Lumina, semakin berat beban di pundak saya. Tanpa saling tahu perasaan masing-masing, kami bertiga menyadari apa yang kami lakukan bukanlah hal baik dan kami telah mencontohkannya kepada keluarga Lumina. Kami mengajarkan untuk menjual kecantikan dan kemolekan tubuh, walaupun dibalut dalam pakaian muslimah. Mungkin ini tidak menjadi masalah jika yang melakukan adalah pribadi para pendiri masing-masing, karena akan menjadi dosa kami sendiri. Tapi, kami telah mendirikan wadah. Ya, sebuah wadah yang mengajak adik-adik kami untuk melakukan tabarruj dan berlenggak-lenggok di depan publik yang bukan mahram. Kegundahan kami memuncak dan terungkap saat kami bertiga sedang melakukan pertemuan rutin untuk membahas sesi foto komposit model baru. Ternyata, selama ini kami merasakan kegelisahan yang sama. Alhamdulillah pada akhirnya, kami sepakat dan memutuskan untuk mengalihfungsikan Lumina dari agensi model muslimah menjadi komunitas sosial yang bergerak di bidang amal. Semoga komunitas ini dapat menjadi wadah untuk terus bersilaturahim dengan ketigapuluh adik-adik kami.

 

وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Janganlah kalian (wahai istri-istri Nabi) bertabarruj sebagaimana tabarruj orang-orang jahiliah yang awal.” (Al-Ahzab: 33)

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.”[HR. Muslim no. 2128 dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

 

Bagaimana dengan saya? Awalnya, sangat sulit untuk melepaskan dunia modeling, karena ini telah menjadi hidup saya sejak tiga tahun yang lalu. Saya sempat memasuki tahap penyangkalan dan pembenaran atas ayat dan hadist yang telah saya temui. Ya. Sangat sulit melepaskan, apalagi setelah merasakan kenikmatan dan hasil yang didapat dari profesi sebagai model. Astagfirullah! Sangat duniawi dan hanya dunia yang saya pikirkan. Padahal saya tahu hanya kepada Allah lah saya kembali tanpa membawa apapun dari dunia ini. Apa bekal saya untuk ke akhirat nanti setelah saya dicabut nyawanya? Sudah cukupkah amal dan ibadah saya selama ini? Akankah dosa-dosa saya diampuni? Mengingat itu, saya menangis dan kembali memohon ampun.

Alhamdulillah, suami dan dua sahabat saya selalu mengingatkan untuk kembali ke jalan yang benar ketika cobaan datang. Saya pun terus meyakinkan diri bahwa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Dia akan ganti dengan yang lebih baik. Saya mulai menolak tawaran untuk berjalan sebagai model di pagelaran busana, tetapi masih menerima tawaran foto dengan beberapa syarat tertentu. Perlahan tapi pasti saya berniat untuk mulai meninggalkan dunia model ini seutuhnya.

Apakah ini bisa termasuk dalam hijrah? Saya tidak tahu. Tapi saya yakin saya satu langkah lebih dekat dengan Allah. Insha Allah.

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad 5: 363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

 

 

 

Advertisements

17 thoughts on “Inikah Hijrah?

  1. Rhilllll…bagus ih…luar biasa ya memang cara Allah membukakan hati kita tuh…jadi pengen ngobrol banyak ih…kapan yuk kita jumpa yuk

  2. Rhillyyyyy. bagusss tulisannyaaa. smg dimudahkan yaaa proses hijrahnyaa dan smg kita bisa selalu menjadi muslimah yang lebih baik yaaa 🙂

  3. ma sya Allahhhh neng rhilyyyyyyyyyyy….. qadarullahhhh… merinding seperti pertemuan kita di seminar waktu itu… doa terbaik buat mu dan semua yang hijrah krn Allah…

  4. Rhilly.. Aku bukan orang yang biasa komen di postingan orang lain, membaca postingan orang lain aja jarang ehhehe.. But somehow someway u move me.. Jangan berhenti terus belajar menjadi lebih baik.. Krn km tidak akan sadar bahwa apa yg sudah kamu lakukan ini bermanfaat bagi banyak orang terutama saudara sesama muslim kita.. Terimakasih rhilly ❤️ Untuk rangkaian kata yg indah ini… Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT… Istiqomah terusss…

    • Hai Ayu, Alhamdulillah.. Terimakasih udh baca postingan aku ya. Semoga bermanfaat.. In Shaa Allah aku akan terus belajar untuk jd lebih baik hehe smoga kita sama2 istiqomah yaa. Aamiin

  5. Alhamdulillah Allah kirimkan sahabat2 yg selalu mengingatkan tujuan utama kita diperjalankan ke dunia ini…
    perenungan & kesadaran ini kerasa menjadi pengingat untuk fokus pada tujuan akhir kita Allah Ta’ala.
    Terima kasih untuk remindernya di akhir tahun 2015 ini yaaa
    Love you Rhil ❤️

  6. Alhamdulillah.. mksh rhily sdh menyumbang inspirasi sehingga dtg hidayah jg buat istri tercinta…

  7. Dari stalking ig rhily sampe penasaran sm tulisannya. MasyaAllah cirambay bacanya. Terimakasih udh diingatkan bahwa hanya kepada Allah kita kembali tanpa membawa apapun di dunia ini. Semoga berkelimpahan berkah dan selamat dunia akhirat buat kita ya,amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s