Ikhtiar untuk Berbadan Dua (1)

PCOS
Tulisan ini adalah kisah perjuangan saya dan suami demi mendapatkan buah hati. Hampir dua tahun yang lalu, pertamakalinya saya mengetahui bahwa alasan diri tak kunjung hamil adalah karena saya memiliki Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). Bukan karena obesitas, tetapi karena bakat diabetes dari Kakek yang diturunkan pada saya. Sekilas mengenai PCOS adalah kondisi dimana banyaknya sel telur berukuran kecil dalam indung telur, akibat produksi insulin berlebih (karena gen diabetes) dan menyebabkan sel telur tidak bisa berkembang/matang. Ini pun salah satu penyebab jadwal haid saya tidak teratur setiap bulan, bahkan sempat mencapai 40-45 hari per siklusnya.

20151119_183152.jpg

sel telur yang sangat kecil bahkan hampir tidak terlihat

Konsultasi dan Obat-obatan

Awal cerita, saya dan suami baru memeriksakan diri ke dokter setelah dua tahun pernikahan, kami sepakat untuk periksa ke dokter di RS Limijati. Karena kurangnya informasi mengenai jadwal dokter, saya memilih konsultasi dengan dokter yang saat itu sedang praktek, Dr. Dian Tjahyadi SpOG. Pada pertemuan pertama, saya langsung di USG transvaginal, dokter memasukan semacam alat ke dalam vagina saya, agak risih memang, tapi begitulah prosedurnya. Tanpa banyak spekulasi, beliau langsung mengetahui bahwa saya penderita PCOS, terlihat dari telur saya yang jumlahnya banyak dengan ukuran kecil. Suami saya pun diperiksa dan kami berdua disarankan untuk melakukan berbagai tes laboratorium agar faktor lain penyebab saya tak kunjung hamil diketahui. Tes yang kami jalani adalah tes glukosa, tes kesuburan, tes HSG dan beberapa tes lainnya. Selama sebulan saya berkonsultasi dengan Dokter Dian.

Pertemuan bulan berikutnya, saya mendaftarkan diri untuk konsultasi dengan Dr.dr.Tono Djuwantono,SpOG(K),M.Kes,  salah satu dokter fertilitas terbaik di Kota Bandung. Di RS Limijati ini, pasien Dokter Tono sangat banyak. Bila tidak ingin mengantri terlalu lama, sebaiknya mendaftarkan diri sehari sebelumnya. Setelah nama saya dipanggil untuk masuk, saya sempat takjub melihat ruangan Dokter Tono yang penuh dengan foto-foto beliau dan ‘motor gede’nya.  Ternyata, sikap dan karakter beliau ini sangat santai, humoris dan tanpa basa basi.

Saya membawa semua hasil tes laboratorium untuk diperlihatkan pada Dokter Tono. Selain kondisi sel telur saya yang kurang baik, kegiatan suami yang super sibuk dan banyak tekanan juga menyebabkan kondisi spermanya menurun. Akhir konsultasi, saya diberi resep obat penyubur dan disarankan untuk olahraga rutin setiap hari.

Sambil menjalani perawatan dengan Dokter Tono, saya dan suami pun rajin melakukan pengobatan alternatif ke Tjan Tjung di jl.Sudirman. Banyak pasangan melakukan pengobatan disini dan berhasil dikaruniai anak. Tindakannya adalah menusuk telapak kaki pada titik-titik tertentu menggunakan kayu. Pertemuan pertama hingga keempat, kaki saya terasa nyeri ditusuk-tusuk oleh kayu refleksi. Jadwal pengobatannya pun berbeda-beda tergantung beratnya penyakit. Awal berkunjung, saya disuruh kembali melakukan refleksi sebanyak 3x seminggu, setelah itu berkurang jadi seminggu sekali.  Sebulan pengobatan, saya merasa badan lebih segar dan tidak merasa sakit saat telapak kaki saya ditusuk oleh kayu refleksi. Kondisi saya saat itu telah sehat dan pengobatan hanya perlu sebulan sekali.

Belum puas dengan hasil obat-obatan dan refleksi, saya penasaran untuk mencari pendapat dari dokter lain. Atas rekomendasi mertua, pilihan saya jatuh pada Dr.med.Tarmin Soetandi di jl. Cihampelas.  Selama enam bulan saya rajin konsultasi  dan mengikuti program hamil di klinik ini.  Sama dengan Dokter Tono, pasien dokter Tarmin pun sangat banyak. Untuk menghindari antrian hingga tengah malam, sebaiknya mendaftarkan diri via telepon tepat pk.10.00. Terlambat mendaftarkan diri sepuluh menit saja, pasti dapat antrian nomor besar. Penanganan di klinik ini ditangani oleh Dokter Tarmin dan Dokter Esther, istrinya. Dalam setiap konsultasi, saya diperiksa dahulu oleh Dokter Tarmin di ruang tindakan, kemudian hasil pemeriksaan dioper ke istrinya yang siaga di ruang konsultasi. Saya merasa lebih nyaman disini karena  Dokter Tarmin pro alami untuk program hamil. Beliau sangat teliti memperhatikan kesehatan organ reproduksi saya, sedangkan dokter Ester sangat detail memperhatikan riwayat kesehatan, mulai dari siklus haid hingga obat yang diminum. Setelah melakukan pemeriksaan rutin, ternyata selain PCOS, saya terkena virus yang menyebabkan sariawan pada leher rahim. Pengobatannya adalah  melakukan pap smear dan pembersihan leher rahim saya.

Selama program hamil, Dokter Tarmin menyarankan untuk minum obat kencing manis dan obat hormon agar telur saya tumbuh matang dan besar. Sedangkan, suami diberi Torex,obat penyubur bagi pria,agar kualitas sperma baik. Butuh sekitar 3-4 bulan agar telur bisa berkembang dengan normal. Setelah selesai haid setiap bulan, saya melakukan USG transvaginal. Progresnya memang terbukti, telur saya besar dan matang. Kemudian, saya disuntik cairan pemecah telur agar sel telur yang matang bisa dibuahi. Dua bulan proses ini terus berlangsung. Dokter yakin saya bisa hamil bulan depan karena kondisi telur yang bagus. Tapi sayangnya, kami belum juga dikaruniai buah hati. Konsultasi terakhir, Dokter Esther menyarankan agar saya inseminasi.

Setelah mengumpulkan informasi tentang inseminasi dan biayanya, saya dan suami sementara berhenti konsultasi ke dokter. Kami menabung selama 3 bulan dan memutuskan kembali ke Dokter Tarmin untuk inseminasi. Ternyata melakukan inseminasi harus ke dokter spesialis dan kami diberi rujukan ke Dokter Tono.

Operasi Laparoskopi – Ovarian Drilling

Kami kembali ke RS Limijati dan konsultasi dengan Dokter Tono. Beliau membaca riwayat pengobatan saya. Minum obat-obatan dan olahraga rutin sudh tidak mempan dan tidak membuahkan hasil. Kemudian, dokter melakukan USG transvaginal dan melihat telur saya banyak kecil-kecil, lebih kecil dari hasil USG pertemuan pertama dengan Dokter Dian. Kondisi saya makin menurun karena selama 3 bulan tidak diobati. Saya divonis PCOS berat.

Dokter Tono menjelaskan, ada 3 tahapan perawatan bagi penderita PCOS, yaitu:

  1. Ditangani dengan minum obat dan olahraga rutin, bila tidak berhasil maka,
  2. Dilakukan operasi laparoskopi- ovarian drilling, bila tidak berhasil juga maka,
  3. Inseminasi

Kami menyetujui untuk melakukan operasi laparoskopi – ovarian drilling. Apakah itu?

Penjelasan singkatnya, Laparoskopi adalah operasi dengan membuat sayatan kecil di perut untuk memasukan semacam alat dengan kamera kecil dan melihat keadaan organ-organ dalam kita.

Sedangkan ovarian drilling adalah melubangi dinding indung telur. Kenapa Indung telur harus dilubangi?20151119_182849

 

Jadi, penderita PCOS itu memiliki dinding indung telur yang tebal. Setiap bulannya penderita PCOS menghasilkan hormon testosteron berlebih ke dalam indung telur dan membuat sel telur tidak dapat berkembang. Nah, dengan ovarian drilling, dinding indung telur dilubangi sehingga hormon testosteron berkurang dan keluar melalui lubang-lubang tersebut. Harapannya agar sel telur dapat berkembang dengan normal. Biayanya bervariasi tergantung kelas kamar inap yang kita pilih. Saya memilih kamar kelas 3 dengan total biaya 24 juta sudah termasuk biaya operasi, rawat inap, dan obat untuk dibawa pulang. Sebelum operasi, saya diminta untuk melakukan tes laboratorium untuk persiapan operasi dan memakan biaya sekitar 1,2 juta. Operasi ini hanya membutuhkan waktu 30 menit. Suami saya boleh masuk ruang operasi untuk melihat prosesnya dengan biaya 150ribu.

Melalui operasi laparoskopi, seluruh organ dalam saya terlihat di layar melalui kamera , ternyata di saluran tuba saya ada kista sebesar kacang polong, saking kecilnya tidak terlihat oleh USG transvaginal. Selain itu, pada leher rahim terlihat keputihan cukup banyak. Mungkin inilah penyakit lain penyebab saya belum hamil selama ini. Akhirnya,  semua permasalahan dituntaskan dalam sekali operasi saja. Kami merasa mengambil keputusan untuk melakukan operasi laparoskopi ini adalah langkah yang tepat, karena jika langsung tahap inseminasi, kemungkinan gagalnya lebih besar akibat kista kecil dan keputihan yang tidak diketahui sebelumnya.

Selesai operasi, saya bisa langsung pulang, walaupun bekas luka masih sedikit nyeri. Menurut dokter, kondisi saya sudah baik. Saya dan suami disarankan untuk mencoba program hamil secara alami dulu selama beberapa bulan ke depan. Jika masih tidak berhasil, baru menjalani inseminasi.

Bismillah, semoga ikhtiar kami ini membuahkan hasil, sisanya kami serahkan pada Allah SWT. Sambil terus menabung karena biaya inseminasi juga tidak murah.. fyuuuh!

Advertisements

12 thoughts on “Ikhtiar untuk Berbadan Dua (1)

  1. Minta doanya teteh, saat ini istri sy sedang menjalani pengobatan di Dr. Tono, kemungkinan PCOs juga, sementara diberikan obat2an diabet sambil olah raga, 2 bln ke depan di suruh di cek kembali, dan bila tdk berhasil dokter jg menyarankan laparoskopi drilling, mudah2an dilancarkeun sagalana… o ya skr gmn teteh sudah berhasil blm programnya dgn dr. Tono… mohon infonya ya teh 😉

    Hatur Nuhun,
    Salam kenal ya teh dari Karawang 😉

  2. Sist mau nanya dnk, btw skr km ud hamil blm setelah di oprasi lapraskopi itu?? Mohon dijwb ya sist soalnya sy lg disuruh dktr buat lapraskopi nih, jd mah cari tahu dlu.. Thanks ya

    • Hai dear, operasi laparoskopi nya untuk ovarian drilling atau apa? Kalau saya laparoskopi ovarian drilling. Bukan brarti stlh operasi itu bakal 100% hamil, ttp aja kita harus rajin olahraga, jaga makanan bahkan minum obat (bagi PCOS). Stahun stlh laproskopi sy lanjut inseminasi, skrg msh dlm tahap menunggu hasil, bs dibaca di postingan saya paling akhir. Smoga lancar yaa

  3. Haloo.. Salam kenal saya nita.. Sdh masuk tahun ke 6 penikahan saya dan suami mba rhily.blog mba sangat mengisnpirasi saya..saya mau tanya klo di shinse tjan tjung yg di sudirman itu di tanganin sm siapa?mohon di jwb mba soalnya aku lg cb ihktiar ke sana juga

    • Halo Nita, dulu bgt saya lgs ditangani sama kakek yg pemiliknya,ya bpk shinse nya itu sendiri, bukan anaknya. Tapi memang harus rajin bgt, kalau dia blg dtg tiap hari ya kita hrus rutin, biar efeknya terasa. Smangat ya, nita. Smg dilancarkan ikhtiarnya

  4. saya mau share, kmaren saya jg konsul ke dr Tono sis, gejalanya jg sama saya kena PCOS, sama dr Tono disarankan untuk operasi laparoscopy dengan sistem ovarian drilling, alhamdulillah seminggu setelah operasi saya langsung hamil. dr Tono jg gak percaya kl langsung hamil setelah d operasi. mukjizat Allah emang luar biasa.

    semangat y sis…mudah2an cepet isi

  5. Assalamualaikum 🙂
    Saya mau bertanya, di atas disebutkan kalau ternyata ada kista kecil di tuba dan keputihan yg kemungkinan jd penghambat kehamilan yg ditemukan saat operasi.
    Tapi ibu sblmnya sudah HSG, hasil HSGnya normal semua kah? tidak keliatan ada indikasi sperti penyumbatan tuba dll nya?

    Sebab saya Alhamdulillah hasil HSG baik2 semuanya. Dan perkembangan sel telurpun baik. Mohon sharingnya ya bu.

    Semoga sehat selalu ya ibu dan bayinya. Doakan kami juga yg sedang berjuang 🙂
    Terima kasih ^^

    • Waalaikumsalam mbak Lulu,
      Sebelumnya saya sudah melakukan hsg dan Alhamdulillah tidak ada yang tersumbat, cairan biru nampak lancar pada foto hasil hsg. Saat operasi, ketahuan ada kista yg sangat kecil, mungkin tidak sampai menyumbat saluran tuba, tp bisa jadi penghambat gerak sperma. Semoga dilancarkan ya mba perjuangan untuk dapat momongannya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s