Wanita Mulia

Saat menemani seorang teman dalam sesi foto sebuah butik, saya berbincang dengan pemilik sekaligus desainer busana butik tersebut. Obrolan ringan kami ditemani cangkir-cangkir teh manis hangat sambil  sesekali memperhatikan teman saya beraksi di depan kamera. Tak disangka pertanyaan saya mengenai awal mula bagaimana beliau memulai usaha ini, ternyata menguak kisah masa lalunya. Kisah nyata yang menurut saya  seperti cerita sebuah sinetron.

Panggil saja wanita ini Ibu Hera, beliau adalah orangtua tunggal dengan 4 orang anak. Kekerasan dalam rumah tangga membuat ia memilih untuk menceraikan suaminya. Saya kagum dengan kebesaran hati ibu Hera, apalagi setelah saya mengetahui bahwa 2 dari 4 anak tersebut bukanlah anak kandung beliau. Almarhum tetangga wanita ini menitipkan kedua anaknya sebelum pergi untuk selamanya. Memang pengasuh terbaik adalah keluarga dekat, tapi entah kenapa, anak-anak almarhum lebih memilih untuk tinggal bersama Ibu Hera. Sungguh mulia hati orangtua tunggal dengan dua anak ini masih mau menerima dan memelihara dua anak yatim piatu. Beliau melihat peristiwa ini sebagai amanah dari Allah.

Semakin larut dalam kisah beliau, semakin saya segan padanya. Bulu kuduk saya merinding berkali-kali. Ibu Hera kemudian menceritakan pengalamannya ketika bertemu dengan seorang gadis tunawisma berbaju lusuh yang sedang mencari pekerjaan. Saat itu beliau sedang berada dalam kondisi lemah baik secara mental maupun materil karena perceraiannya, tetapi Ibu Hera tetap memberi gadis ini tempat untuk berlindung.

Apa yang diceritakan selanjutnya sungguh membuat hati saya tersentuh, apalagi setelah mendengar mengenai masa lalu sang gadis. Ia berasal dari keluarga kaya dan terpandang, memiliki butik yang cukup besar dan sukses. Kehidupannya sangat nyaman  hingga akhirnya ia jatuh cinta dengan lelaki muslim. Gadis ini pun memutuskan untuk menikah dengannya. Tentu saja, pernikahan ini ditentang oleh orangtua sang gadis karena perbedaan agama. Apalagi setelah mengetahui bahwa putrinya telah memeluk agama Islam. Ia sempat diancam akan kehilangan relasi dan usahanya jika menjadi mualaf. Tapi karena besarnya rasa cinta pada lelaki itu, pernikahan tetap dilaksanakan tanpa restu kedua orangtua. Pada akhirnya, gadis ini mendapatkan kebahagaiaan sekaligus kesedihan, karena orangtuanya tidak lagi menganggapnya sebagai anak dan mengursirnya dari rumah mereka.

Sungguh malang nasib sang gadis. Apa yang dikatakan orangtuanya ternyata menjadi kenyataan. Usaha butiknya bangkrut, ia tidak lagi memiliki kepercayaan dari klien dan relasinya. Kini, sang gadis hanya bisa menggantungkan seluruh hidupnya pada suami tercinta. Ia berpikir uang bukanlah segalanya, selama masih memiliki suami yang setia di sampingnya, maka ia pun akan bahagia.

Sayangnya, kebahagiaan itu sirna ketika gadis ini mengetahui kebenaran mengenai suami yang dicintainya. Ternyata, lelaki ini telah memiliki 8 istri tanpa sepengetahuan sang gadis. Dengan perasaan marah dan terluka, ia pun pergi  meninggalkan lelaki itu tanpa bekal untuk dirinya. Pergi tanpa tujuan, dipenuhi rasa marah, dan berada dalam titik rendah dalam hidup membuat gadis ini mengalami kebingungan dan depresi. Di saat itulah Ibu Hera datang dan memberinya tempat berlindung.

Beliau mengasuhnya, bahkan membelikan mesin jahit agar gadis ini dapat memulai usahanya kembali. Tak disangka pesanan pun berdatangan, hasil jahitannya banyak disukai orang. Dalam beberapa waktu, Ibu Hera dan gadis ini mendapat pesanan dalam jumlah banyak.  Di saat saya mengira keadaan mulai membaik ternyata cobaan datang kembali. Walaupun usaha jahit mereka mulai sukses, tapi depresi yang dialami gadis ini tak kunjung hilang. Suatu hari ia menggunting beberapa pesanan klien menjadi potongan-potongan kecil akibat frustasi. Kabar ini didengar oleh salah satu kakak kandung sang gadis yang masih peduli padanya. Ia pun segera dijemput dan dibawa pulang untuk diterapi hingga sembuh.

Ibu Hera bersyukur karena gadis itu telah kembali pada keluarganya, tapi di sisi lain beliau harus  bertanggungjawab terhadap pesanan klien yang telah dirusak oleh gadis itu. Mau tak mau, Ibu Hera mengambil alih semuanya dan mulai belajar untuk mengelola bisnis menjahit. Beliau samasekali tidak memiliki pengetahuan mengenai desain, bahan kain, pola, ataupun ilmu-ilmu yang dibutuhkan dalam bidang fashion. Tapi keinginannya untuk bertanggungjawab ternyata membuka pintu rezeki menuju kesuksesan.

Allah memberikan jalan menuju rejeki yang berlimpah dengan cara yang unik. Ibu Hera menyadari, bahwa bukan dialah yang membantu gadis itu, tapi gadis itu yang telah membantunya untuk bangkit dari titik terendah dalam hidupnya. Dengan memberi makan dan tempat berlindung kepada anak yatim piatu dan seorang mualaf, Ibu Hera mendapatkan balasan menuju jalan terang dan kesuksesan. Saat ini, beliau telah membuka usaha busana muslim dengan namanya sendiri dan tetap menerima pesanan jahit dari beberapa brand busana muslim ternama lainnya.  Sungguh Allah maha adil.

Saya banyak belajar dari pengalaman beliau, bahwa ketika seseorang butuh pertolongan saat kita sedang berada dalam kesusahan, dan kita memilih untuk membantunya dengan tulus, maka saat itulah Allah memberikan anugrah yang tidak pernah kita bayangkan. Cara kita bersikap dalam menghadapi cobaan adalah pilihan kita sendiri. Jika kita memilih untuk berbesar hati dan tetap berpikiran positif, balasannya pun akan setimpal bahkan lebih besar. Terimakasih pada Ibu Hera yang telah menginspirasi saya untuk menjadi orang yang lebih baik lagi 🙂

 

Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa (balasan) atas apa yg telah dikerjakannya dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Surat 39 Az Zumar: Ayat 70)

Barangsiapa mengambil anak yatim dari kalangan Muslimin, dan memberinya makan dan minum, Allah akan memasukkannya ke surga, kecuali bila ia berbuat dosa besar yang tidak terampuni” (HR Turmudzi)

Barangsiapa meletakan tangannya diatas kepala anak yatim dengan penuh kasih sayang, maka Allah akan menuliskan kebaikan pada setiap lembar rambut yang disentuh tangannya” (HR.Ahmad, Ath-Thabrani, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Aufa)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s