Catatan Akhir Tahun

20131209_124809Salah satu hal tersulit untuk dilakukan dalam hidup ini adalah “merelakan”. Tidak mudah untuk mengikhlaskan hilangnya suatu barang, apalagi hilangnya seseorang yang kita sayangi.  Perasaan tidak ikhlas ini membuat kita terus menatap ke belakang, bernostalgia dengan kenangan lama, dan meratapi semua yang sudah terjadi. Sesungguhnya sesuatu di dunia ini tidak ada yang kita miliki, semua hanya titipan Allah semata. Perasaan memiliki inilah akar dari ke-tidak-ikhlas-an.

Hari ini ketika saya berjalan santai di pertokoan area Kuta, saya menemukan hiasan dinding kayu bertuliskan “Some people come into your life as blessings, others come into your life as lessons”. Sinergis dengan buku yang sedang saya baca “A Thousand Miles of Faith” karya Kristiane Backer, saya membaca satu kalimat yang menarik “Mungkin kau telah kehilangan seseorang, tapi kau akan menemukan sesuatu yang lebih berharga. Tuhan. Dan cinta Tuhan itu tidak pernah pudar”.

Kalimat-kalimat ini membawa saya kembali ke peristiwa yang telah lalu. Saat saya mulai memakai jilbab secara permanen dan berniat untuk memperbaiki diri saya, secara perlahan pula beberapa teman saya menjauh. Bukan dengan sengaja tapi memang keadaan yang membuat kami menjadi jauh. Kesibukan membuat kami selalu bentrok untuk bertemu. Awalnya, saya merasa tidak bisa kehilangan teman-teman saya ini. Saya selalu merindukan mereka dan kesal ketika janji bertemu gagal disaat detik-detik terakhir. Kekesalan ini semakin bertambah ketika terjadi konflik dengan seorang teman akibat salah paham. Asumsilah yang menguasai pikiran saya, mengapa seorang teman tega melakukan hal itu? Tapi setelah peristiwa ini terjadi, saya baru menyadari, mereka bukanlah yang terbaik untuk saya.

Ada pepatah yang mengatakan “Bergaulah dengan orang yang sukses jika ingin menjadi sukses”, ini sama halnya dengan niat saya untuk memperbaiki diri. Ibarat naik angkot, saya tidak bisa tetap duduk manis dalam angkot jurusan Cicaheum-Ledeng padahal tujuan saya adalah Jakarta. Saya harus keluar dari angkot itu dan mencari tumpangan lain, walaupun harus sendirian.  Pelan-pelan saya belajar untuk ikhlas dengan tulus, semakin saya mengikhlaskan, semakin banyak hal baik yang datang. Saya mulai dipertemukan dengan teman-teman baru yang dapat membawa saya ke arah tujuan saya.

Sebelumnya, saya sempat dibutakan oleh perasaan nyaman dalam hidup saya. Perasaan ini membuat saya tidak ingin melangkah maju, karena saya tahu ketika melangkah maju, saya akan kehilangan teman-teman saya. Sesungguhnya teman yang baik adalah mereka yang selalu ada di samping kita dan mau mendukung kita apapun yang kita lakukan, walaupun jalan yang kita pilih tidak sesuai dengan mereka. Ternyata, melangkah maju, membuka mata saya sehingga saya bisa melihat dengan jelas, siapa yang benar-benar teman sejati saya. Prosesnya mungkin memang tidak mengenakan, tapi setelah kita bisa ikhlas, kita menjadi sangat bersyukur karena dikelilingi oleh teman-teman yang benar-benar tulus dan setia kawan.

Ingatlah selalu bahwa dalam setiap peristiwa, pasti ada hikmah yang dapat diambil. Dan setiap peristiwa itu pasti terjadi karena suatu alasan yang baik. Adalah pilihan kita, mau berbesar hati dan berusaha mencari hikmahnya, atau larut dalam keterpurukan.

Menutup tahun 2013 ini, saya ingin mengikhlaskan semua yang sudah terjadi. Apa yang telah terjadi akan menjadi pelajaran berharga yang dapat membuat diri saya menjadi lebih baik lagi.

Semakin kita ikhlas, semakin banyak hal baik yang datang pada kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s