Mencari Kunci untuk Pintu Masa Depan

Semenjak tulisan krisis kepercayaan diri paruh baya marak di blog ini, saya sering berdiskusi dengan beberapa teman mengenai kehidupan. Tentu saja pembahasannya berujung pada kebingungan mereka menentukan pilihan hidup. Seminggu yang lalu, saya berjumpa dengan teman kuliah yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Sebut saja namanya Kirei. Wanita ini sempurna secara fisik, wajahnya cantik, tubuhnya tinggi, langsing dan kulitnya putih. Tapi, ketika saya kembali melihatnya untuk pertamakali, ada perubahan dalam sorot matanya. Kirei terlihat lelah dan sinar matanya meredup.

Kirei mulai bercerita tentang kehidupannya. Sudah hampir tiga tahun, dia bekerja di salah satu pabrik sebagai desainer. Walaupun lingkungan tempat dia bekerja penuh dengan hal yang negatif, Kirei tetap bertahan karena dia menyukai pekerjaannya, ditambah sikap atasannya yang tegas tapi menyenangkan. Sayangnya, perusahaan menetapkan peraturan baru untuk mempekerjakan karyawan WNI demi memotong biaya gaji karyawan dari luar negeri. Bosnya Kirei yang berasal dari luar Indonesia terpaksa dipulangkan ke Negara asalnya. Posisi tersebut segera ditempati oleh bos baru yang tidak mengerti akan pentingnya people skill dan keorganisasian. Opini, pendapat dan saran Kirei tidak pernah didengar oleh bosnya, bahkan Kirei dipaksa untuk bekerja lebih keras diluar jam kerja. Semua yang dialami Kirei membuatnya stress dan tertekan, sehingga akhirnya dia jatuh sakit. Dokter mengatakan bahwa Kirei menderita tekanan darah tinggi, sehingga harus istirahat total di rumah. Rupanya bos Kirei tidak mau tahu akan kondisi bawahannya ini. Semakin Kirei memaksakan diri, semakin parah kondisi tubuhnya. Hingga suatu hari, Kirei mengalami vertigo. Saya cukup kaget mendengar dia bercerita dengan wajah tanpa ekspresi. Buat saya, mengalami vertigo di bawah umur 30 bukan suatu hal yang wajar.

Di tengah perbincangan kami, Kirei sempat berhenti bercerita karena pusing, dia memohon untuk pindah ke mobil saya agar bisa bersandar dengan nyaman. Akhirnya kami melanjutkan perbincangan di mobil. Muncul kekhawatiran dalam diri saya. Jauh di dalam hati, saya tahu Kirei berpotensi dan bisa bersinar. Dia hanya perlu keluar dari lingkungan yang penuh hal negatif.

Minat Kirei ternyata jauh dari profesinya sekarang, dia tertarik pada bidang tarik suara dan bermain biola, bahkan dulu pernah menjadi model amatir. Kirei ingin segera keluar dari pekerjaannya, tapi kontraknya masih berjalan sampai bulan Oktober. Ayahnya pun mendukung untuk terus bekerja karena menyayangkan Jamsostek yang tidak bisa diklaim kalau Kirei keluar secara tidak baik-baik. Dalam kebingungan, dia terus bercerita, saya bisa melihat kejenuhannya dalam dunia kerja. Tempat Kirei berada seharusnya bukanlah di pabrik. Tempat Kirei bisa mengekspresikan dirinya buka pula di kantor. Menurutnya, sudah terlambat untuk mengejar minat, di umur segini yang bisa dilakukan hanyalah mencari uang. Kirei menjadi orang yang pesimis, dia merasa semua menjadi tidak mungkin. Parahnya lagi, Kirei tidak mempunyai mimpi dan tidak tahu apa tujuan hidupnya. Begitulah pemikiran seorang Kirei.

Kisah Kirei ini hanya contoh kecil dari beberapa teman yang menjadi bersikap pesimis dan tidak memiliki mimpi akibat lingkungan di dunia kerja. Mayoritas teman saya bekerja untuk mewujudkan mimpi dari atasan atau perusahaan tempat mereka bekerja, bukan untuk mengejar dan membuat mimpinya sendiri menjadi nyata. Bahkan, seringnya, mereka yang terlalu lama berada di kantor, melupakan mimpinya dan hanya mengikuti alur kehidupan sehari-hari.

Saya ingin segera mencolek punggungnya sambil berkata “Hei! Bangun!” Justru jika kita bekerja sesuai dengan minat yang sesungguhnya, otomatis uang akan mengikuti kemana kita pergi. Apalagi jika didukung dengan kerja keras dan perjuangan dalam proses mewujudkan mimpi tersebut. Bukan artinya kita harus mengundurkan diri dari pekerjaan kita sekarang, tapi akan lebih baik jika kita tidak memaksakan diri untuk sesuatu yang membuat diri kita jadi sakit. Masih banyak pekerjaan lain yang lebih baik diluar sana.

Belum terlambat untuk memulai mengejar mimpi. Bahkan sesungguhnya tidak ada kata terlambat. Selama masih bisa bernafas dan selama masih ada kemauan, tidak ada yang tidak mungkin. Kita hanya tinggal memulai, bergerak, dan berjuang selama prosesnya. Lalu apalagi? Bingung masalah uang? Satu hal yang saya yakini, selama niat kita baik dan selama perjuangan kita halal, Tuhan pasti akan selalu memberi kita rejeki. Tidak perlu takut kekurangan uang, sebaliknya, takutlah sama Tuhan karena belum memberi banyak untuk sesama manusia.

Saya menemukan 5 langkah yang gampang-gampang susah untuk dilakukan. Tahapan ini berlaku bagi mereka yang mengalami quarter life crisis. Apa itu?

The quarterlife crisis is a term applied to the period of life immediately following the major changes of adolescence, usually ranging from the late teens to the early thirties. (free dictionary by Farlex, 2013)

Pertama, tenangkan hati dan pikiran. Sadari apakah yang kita kerjakan sekarang adalah hal yang benar-benar kita impikan? Jika tidak, segera ambil tindakan. Ini bagian yang paling sulit karena membutuhkan keberanian, menghabiskan tenaga dan juga pikiran. Tapi setelah kita melaluinya, kita akan merasa lega dan lebih hidup.

Kedua, Bikin daftar tentang minat dan mimpi yang ingin kita wujudkan. Pilah dan pilih apa yang menjadi hasrat kita sesungguhnya lalu terjun ke beberapa kegiatan, siapa tahu panggilan hidup kita ada diantara salah satu bidang itu. Dalam menemukan minat ataupun hasrat, kita dapat memulai dengan mengingat-ngingat masa lalu kita yang paling membahagiakan. Misalnya melakukan hal yang paling kita sukai tetapi kini terlupakan karena kesibukan kita.  Selain itu, penting pula untuk berani mencoba ide-ide yang selalu tersimpan dalam benak kita tapi tak pernah terwujud. Ingat! One thing always leads to another. Lagipula, kita tahu menyukai berenang setelah terjun ke dalam kolamnya bukan?

Ketiga, Persiapkan diri. Tidak hanya modal tetapi juga mental. Modal disini tidak melulu uang, tapi juga bisa berarti keahlian yang sudah dimiliki, seperti bakat, relasi dan berbagai hal lainnya yang akan menjadi landasan kita untuk mengawali pengejaran mimpi (Buffet, 2012). Persiapan mental pun sangat dibutuhkan ketika memulai sesuatu yang benar-benar baru, terutama jika ada seseorang yang berpikiran negatif dan mengatakan kita tidak mampu melakukannya. Persiapan lain yang tidak kalah pentingnya adalah melatih kedisiplinan. Semakin disiplin dan fokus dalam proses mewujudkan mimpi, maka semakin cepat kita meraih sukses. Pikirkan diri kita 5 atau 10 tahun mendatang. Bayangan mengenai masa depan dapat membantu kita untuk mempersiapkan langkah-langkah selanjutnya. Persiapan terakhir adalah investasi pada sesuatu yang dapat membantu kemajuan kita. Baik dalam bentuk waktu, tenaga maupun pikiran untuk selalu mau belajar dan mengembangkan kemampuan diri.

Ketiga setengah. JANGAN BILANG “TIDAK BISA” ATAU “TAPI..TAPI”

Keempat, Petik manfaat dan keuntungan dari semua kegiatan yang kita dalami, baik materi maupun pengembangan kepribadian. Hal ini dapat membantu kita untuki lebih fokus dalam menemukan panggilan hidup dan hasrat kita.

Kelima, kalau empat cara diatas tidak berhasil, ulangi lagi dari nomor 1. Intinya. Jangan menyerah. Segala sesuatu yang baik harus diperjuangkan.

Kembali pada kisah awal, Kirei tetap bekerja di perusahaan itu sampai habis masa kontraknya. Dia menabung sambil mempersiapkan diri untuk membuka usaha setelah keluar dari pekerjaannya. Walaupun kesehatan Kirei belum stabil, tapi dia memiliki kemauan yang besar untuk mengikuti beberapa kursus yang sesuai dengan minatnya. Saya pun bersemangat mendukungnya. Suatu hari Kirei akan bersinar dan berhasil menggapai mimpinya. Inshaa Allah..

Semoga tulisan ini bisa membantu teman-teman saya yang masih bingung mencari cara untuk mewujudkan mimpinya ataupun untuk menemukan panggilan hidupnya.

Cerca Trova

those who seek shall find

Advertisements

2 thoughts on “Mencari Kunci untuk Pintu Masa Depan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s