Antara Kambing dan Sepasang Sepatu Baru

Sebenarnya saya orangnya cukup simple kok dalam memilih sepatu. Cuma butuh sepatu yang nyaman, tahan air, tahan lama, bisa untuk berlari-lari kecil dengan model yang santai tapi juga tetap sopan untuk datang ke acara formal. Sayangnya, melihat ukuran jempol kaki saya yang nyeleneh, perjalanan menemukan sepatu (yang pas di hati, pas di kaki, dan tentunya pas juga di kantong) bisa memakan waktu sampai tiga bulan lebih. Wow! Kok bisa? Iya, walaupun saya sangat bersyukur dengan jempol kaki saya yang panjang dan jenjang seperti sosis, tapi justru itu yang membuat pelapis ujung sepatu saya cepat kandas. Sering saya menemukan model sepatu yang keren dan “gue banget” tapi selaluuu saja ada kurangnya. Kadang ukurannya habis, kadang tidak nyaman, kadang bahannya terbuat dari kain, dan hampir selalu si sosis di kaki saya ini mentok di ujung sepatu.

Hingga suatu hari, Tring! Oh.. itu sepatu School melambai-lambai kepada saya. Meminta saya untuk menghampirinya dan bersenda gurau untuk akhirnya menyatu dengan kaki saya. Sambil berharap cemas, saya meminta si mbak untuk segera mengambilkan sepatu dengan ukuran 39. Si mbak datang membawa kotak biru dan meletakkan sepatu itu di depan saya. Modelnya simple, warna kulit hitam, tidak ada yang istimewa tapi oooh.. ketika saya memasukkan kaki saya padanya, rasanya sangat nyaman dan pas sekali. Saya tidak berlebihan, ini memang sepatu idaman saya. Kemudian saya melompat-lompat dan berlari-lari kecil tidak mempedulikan pengunjung lain yang melihat saya dengan tatapan aneh. “cageur, neng” mungkin itu yang ada di pikiran mereka, saya tidak peduli. Pokoknya saya bahagia dan akan membeli sepatu ini. Tapi, beberapa saat kemudian, badan saya terkulai lemas. “Harga sepatunya 700 ribu, men..” Saya terdiam dan kemudian menatap suami dengan tatapan mata anak kucing kecil lucu menggemaskan yang memohon untuk diberikan sepotong ikan. Suami tersenyum dan berkata “Boleh sayang, beli aja, lagian kan kamu udah lama juga nyari sepatu yang nyaman kaya gitu”. Senyum kemenangan kembali terpancar dan saya berhasil menjadi orang yang “tidak tahu diri” untuk beberapa saat. Untungnya, saya sadar dengan cepat. Budget untuk beli sepatu tidak sebesar itu, masih banyak keperluan rumah tangga lain yang harus dipenuhi, lagipula uangnya bisa digunakan untuk memperbaiki pompa rumah yang akan segera kami tinggali. Dengan besar hati saya melambaikan tangan kepada sepatu School yang biasa saja tapi “enakeun” itu. Yah, mungkin memang belum rejeki saya untuk memiliki sepatu itu.

Sebulan berlalu, saya sudah melupakan sepatu “enakeun” itu. Hingga suatu hari, Ibu saya minta ditemani untuk mencari dan memilih sepatu yang nyaman dalam rangka perjalanan dinasnya ke Cina. Ibu dan Ayah saya sudah lebih dulu berangkat ke toko sepatu,sedangkan saya dan suami menyusul kemudian. Saya tidak menyangka ternyata Ibu saya berniat untuk membeli sepatu School. Ketika saya sampai, ibu saya sudah menyisihkan dua pasang sepatu dan meminta masukan dari saya, sepatu yang mana yang modelnya paling bagus menurut saya. Ternyata salah satu dari dua pasang sepatu itu adalah sepatu yang dulu saya inginkan. Tanpa pikir panjang jari telunjuk saya langsung mengarah pada sepatu idaman saya itu “Yang ini aja, Mom! Ini enak banget dipakenya, modelnya juga simple ga lebay, aku udah pernah nyobain, tadinya mo beli tapi ga jadi.” Ternyata pepatah “Kalau memang sudah rejeki, tidak akan kemana-mana” memang benar adanya. Ibu saya yang baik, cantik dan mantan pelajar teladan itu mengambil dua pasang sepatu dengan model yang sama dan menawarkan saya untuk membelinya dengan setengah harga. Sisanya beliau yang menambahkan. Alhamdulillaaah. Terimakasih Ya Allah. Memang ini hanya sepasang sepatu, tapi rasanya seperti bisul pecah. Yang telah lama dinantikan akhirnya datang juga. Selesai membayar, Ibu dan Ayah saya pulang duluan dan kami berpisah di depan kasir.

Dengan riang, saya menjinjing kantong belanja berisi sepatu idaman sambil berjalan-jalan di seputar mall bersama suami saya. Kami berhenti di counter pakaian dan melihat-lihat beberapa baju, saya meletakkan kantong belanja saya diatas meja display. Saat itu suasana ramai oleh pengunjung, nampaknya satu keluarga besar dari luar Bandung sedang belanja pakaian juga. Cukup lama kami melihat-lihat dari satu counter ke counter lain. Dalam perjalanan menuju lahan parkir, suami saya menyadari sesuatu. Saya tidak menjinjing kantong belanja! Sepatu idaman saya tertinggal di meja display. Saya berlari dengan jantung berdebar-debar, berharap kantong belanja itu masih tergeletak seperti ketika pertama kali saya meletakkannya disana. Tapi ternyata itu hanya harapan semu. Kantongnya tidak ada disana. Mbak penjaga counter menjelaskan dengan perasaan bersalah pada saya yang terengah-engah “Tadi saya lihat ada kantong belanjaan ketinggalan, saya pikir punya bapak-bapak yang tadi sama keluarganya lihat-lihat di counter ini juga. Bapak-bapaknya bawa kantong belanjaan banyak, saya kira punya bapak tadi ketinggalan. Jadi saya kasih aja ke bapaknya. Si bapaknya juga ga ngeliat isi kantongnya apa.” Saya lemas dan masih tidak percaya. Saat saya masih terdiam dan bengong, suami saya menanyakan ciri-ciri keluarga tersebut dan berlari keluar toko untuk mencari bapak itu. Saya masih terbengong dan membeku hingga security datang. Ternyata security di toko ini cukup tanggap, dia langsung menyebarluaskan kejadian saya ini ke seluruh security di mall melalui walkie-talkie nya. Perasaan malu akan kebodohan sendiri pupus karena ingat pada sepatu idaman. Beberapa saat kemudian, security dan suami saya datang pada saat yang bersamaan tanpa membawa berita baik. Bapak dengan kantong belanjaan yang banyak itu tidak ditemukan. Akhirnya saya mengikhlaskan sepatu itu, setidaknya saya sudah mengalami perasaan bahagia memiliki sepatu yang telah lama saya idamkan, walaupun cuma sebentar. Dalam perjalanan ke lahan parkir, suami saya berusaha menenangkan dan membuat saya ceria lagi.

“Gapapa ya,pep? Emang bukan rejeki kamu berarti. Mungkin juga kita diingetin lagi sama Allah, coba kamu inget-inget lagi deh. Pas kurban kita patungan berapa sama kakak buat beli kambing? Masa beli sepatu mahal aja bisa tapi patungan buat kambing cuma sedikit?”

Astagfirullah! Saat itu juga saya merasa seperti disambar petir. Saat itu juga saya merasa sangat malu pada diri sendiri. Iya, masa beli sepatu mahal saja bisa tapi buat kurban hanya patungan beberapa ratus ribu. Padahal kami mampu untuk beli satu kambing. Perasaan bersalah saya semakin besar. saya mengikhlaskan sepatu itu dan berniat tahun depan untuk membeli satu kambing buat dikurbankan. Alhamdulillah, saya masih diingatkan oleh Allah. Terimakasih, Ya Allah.

Dan sekali lagi, “Kalau memang sudah rejeki tidak akan kemana-mana”. Di depan lahan parkir, ada bapak-bapak dengan banyak kantong belanjaan sedang duduk bersama keluarganya di bawah pohon rindang. Saya langsung berlari ke arah keluarga tersebut dan bicara dengan istri bapak tersebut. “Wah, mungkin kebawa ya sama Bapak, saya gak tau soalnya. Diliat aja kantongnya satu-satu, siapa tau memang ada.” Dan ternyata benar. Kantong belanja isi sepatu idaman saya itu ada disana. Alhamdulillah. Ternyata memang rejeki saya untuk memiliki sepatu ini. Bapak dan ibu itu minta maaf karena kantongnya terbawa oleh mereka. Saya mengucapkan terimakasih dan segera pamit. Suami saya yang menunggu di depan gerbang hanya tertawa sambil menggelengkan kepala melihat tingkah laku saya. Masha Allah! Dari pengalaman ini saya belajar banyak sekali.

Untuk tidak mementingkan materi duniawi jika kewajiban sesungguhnya belum terpenuhi. Untuk ikhlas dalam hal apapun karena segala yang di dunia ini hanyalah titipan Allah. Untuk lebih teliti dan hati-hati atas segala yang telah dititipkan. Untuk bersabar dalam mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan untuk saya agar selalu bersyukur memiliki suami yang bijak dan ibu yang baik hati.

Setelah saya mendapatkan kantong belanja berisi sepatu membawa berkah itu..

Di depan lalu lalang pengunjung mall..

Saya langsung mengeluarkan sepatu baru saya dan memakainya 😀

Advertisements

One thought on “Antara Kambing dan Sepasang Sepatu Baru

  1. ceRita nYa me remindinG saYa unTuk leBiH biJak dlm beRBelanJa keButuHan priBaDi yG kadanG kalaP kL liHat prOmo2 dan saLe ^-^
    nuHun teTeH 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s