Perjuangan demi Visa MVV

Berawal dari mimpi dan cita-cita suami untuk menjadi seorang yang ahli dalam dunia manajemen seni, kami berencana untuk tinggal di Utrecht-Belanda selama suami saya berjuang mendapatkan gelar masternya. Tentunya, sebagai istri yang baik, saya harus mendukung suami 100% agar mimpinya jadi kenyataan. Mulailah kami mencari informasi tentang persyaratan yang harus dipenuhi,dokumen apa saja yang harus diterjemahkan dan dilegalisir, dan hal lainnya yang ternyata ribet dan bikin sakit perut (harfiah, saya sempat sakit perut selama seminggu saat proses pengurusan dokumen). Saya pun konsultasi dengan paman yang dulu pernah bersekolah di Belanda, beliau bercerita bahwa temannya yang tidak mendapat ijin tinggal, harus bolak balik Indonesia-Belanda menggunakan visa turis setiap tiga bulan untuk bisa bersama suaminya. Ck..ck.. Cara seperti itu memakan banyak biaya dan tenaga. Akhirnya selama sebulan, saya mencari info tentang cara lain agar saya bisa ikut pergi dan tinggal bersama suami di negeri Belanda.

Visa MVV

Mendapatkan ijin tinggal di Belanda tidak semudah di Negara lain, bahkan masuk ke negaranya saja sulit. Ada beberapa jenis visa untuk ke Belanda, yang pertama adalah visa turis dengan masa tinggal terlama 3 bulan. Yang kedua adalah MVV, berupa stiker yang akan ditempel di paspor kita. Dengan MVV ini, kita dapat mengajukan ijin tinggal lebih dari 3 bulan, kita hanya perlu lapor di kantor imigrasi setelah tiba di Belanda.  Andaikan misalnya suami saya diterima sebagai mahasiswa di universitas impiannya, saya tetap harus mengajukan permohonan visa MVV di kedutaan Belanda, Jakarta. Pihak sekolah hanya bisa melampirkan keterangan ke bagian imigrasi Belanda bahwa saya sebagai istrinya akan ikut pergi dan tinggal di Utrecht. Jadi, saya sendiri harus mengurus visa MVV ke Kedubes Belanda di Jakarta.

Mendapatkan visa MVV ini susaaah banget dan butuh banyak uang. Bayangkan! Untuk mengajukan permohonannya saja kita harus bayar 1250 Euro atau sekitar 17,5 juta. Jika ingin permohonan MVV kita disetujui, kita harus menyiapkan dokumen lengkap  yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris dan dilegalisir oleh DepHum & DepLu serta Kedubes Belanda. Saya dan suami menggunakan jasa pengurusan dokumen untuk terjemahan dan legalisir agar lebih efektif waktu dan biaya. Jika kami mengurus sendiri, biayanya akan jauh lebih mahal, karena kami akan bolak balik Bandung-Jakarta-Bandung.

Tebel di bawah berisi daftar dokumen yang harus dipersiapkan lengkap dengan biaya penerjemah dan legalisirnya:

Jumlah Rp.
1.Akte lahir :Bikin baru (sudah diterjemahkan)

Legalisir DepHum & DepLu

Legalisir Kedubes Belanda

2 (suami-istri)

2 (suami-istri)

2 (suami-istri)

400.000 (calo, sebulan jadi)

500.000

1.100.000

2. Akte pernikahan
Akte TerjemahanLegalisir Dep.Agama

Legalisir DepHum & DepLu

Legalisir Kedubes Belanda

1

1

1

1

50.000

200.000

250.000

550.000

3. Perpanjangan paspor 1 225.000

Jumlah biaya diatas itu hanya untuk pengurusan dokumen saja, salah satu syarat lain untuk bisa ikut suami kuliah di Belanda adalah bukti kemampuan finansial suami untuk membiayai keluarganya yaitu dengan menunjukkan sejumlah uang di rekening sesuai ketetapan Pemerintah Belanda. Untuk pasangan menikah harus mempunyai 1572,70 Euro atau sekitar 20 juta perbulan. Jadi, kalau saya mau ikut suami ke Belanda selama setahun, saya harus menunjukkan bukti  uang sebanyak 240juta di rekening  suami. Wew! Sakit perut saya kambuh lagi. Persiapan selama setahun seolah-olah terasa singkat. Semoga suami saya mendapatkan beasiswa untuk meringankan beban kami. Amin Amin Amin.

Ada beberapa cara supaya kita tetap bisa ikut pasangan kuliah di Belanda tanpa harus menyiapkan biaya yang besar.

  1. Sekolah . Cara yang paling efektif, sederhana, mudah dan menguntungkan adalah menjadi mahasiswa di perguruan tinggi. Apalagi jika kita mendapat beasiswa, kita samasekali tidak mengeluarkan biaya apapun (kecuali pengurusan dokumen). Jika suami dan istri menjadi mahasiswa dan mendapat beasiswa, sudah pasti keduanya mendapat ijin tinggal yang langsung diurus oleh pihak sekolah. Selain itu, kita juga bisa kerja part-time dengan gaji yang cukup besar. Lumayan untuk tabungan ketika sudah kembali ke tanah air.
  2. Bekerja. Jika ingin menempuh cara ini, kita harus sudah diterima kerja di perusahaan yang ada di Belanda sebelum kita masuk Negara tersebut. Sayangnya, mencari pekerjaan di Belanda saat ini sangat sulit, mereka lebih memilih penduduk asli daripada mempekerjakan warganegara asing.
  3. Writer Residency. Cara ini bisa dilakukan bagi mereka yang sudah pernah menerbitkan buku dan diterjemahkan dalam bahasa Belanda. Biayanya tidak terlalu besar, tapi program ini hanya untuk 6 bulan saja, jadi kita tetap harus mengajukan perpanjangan ijin tinggal sampai pasangan kita selesai sekolah.
  4. Au Pair. Cara terakhir adalah menjadi pengasuh di salah satu keluarga di Belanda. Kelebihannya, kita akan diundang datang ke Belanda oleh keluarga tersebut, sehingga kita tidak perlu menunjukan sejumlah uang di rekening kita. Visa akan dibantu pengurusannya, tempat tinggal pun disediakan, bahkan jika beruntung, kita akan diajak berkunjung ke Negara tetangga. Kekurangannya, waktu kita akan dicurahkan seluruhnya untuk mengurus keluarga tersebut, sehingga kita hanya bisa sesekali beretmu dengan pasangan kita.

Beberapa cara inilah yang saya temukan untuk bisa ikut suami bersekolah di Belanda. Semoga ketika suami saya diterima di sekolahnya, saya juga mendapatkan informasi baru yang lebih efektif untuk bisa berangkat tanpa harus mempersiapkan biaya yang besar. Let’s hope for the best! AMIN

Advertisements

7 thoughts on “Perjuangan demi Visa MVV

  1. kak saya lira,
    mau mengurus legalisir akta kelahiran di kedubes belanda juga,,
    bisa minta alamatnya jasa legalisir yang digunakan kakak..trima kasih

    • hai Lira..
      sayangnya, saya belum sampai tahap legalisir ke kedubes, tapi saya punya alamat agen yang bisa bantu legalisir Belanda dan murah sesuai tarif di kedubesnya, sekitar 350ribu..
      Louis Liem & Partners
      Jl. Melawai XI / 188, Kebayoran Baru
      12160 Jakarta Selatan – Indonesia
      Tel. +62-21-7252869, 7252870, 7398671
      Fax +62-21-7220724, 7231760
      info@oscs-online.com

  2. Hei Rhil…hahaha akhirnya lo ngalamin ini juga

    Kebijakan Uni Eropa sejak tahun 2008 membuat pelajar tidak bisa dengan mudah membawa keluarga, gue juga ngalamin hal yg sama di sini.
    Mending lo bisa pake terjemahan bahasa Inggris, gue harus pake bahasa Italia hahaha dan ada minimum luas tempat tinggal (karena ada anak), dsb.
    Akhirnya kalau gue dan istri milih mereka nyusul hanya 3 bulan terakhir aja.

    Semoga sukses ya utk perjuangannya, btw kapan Darto berangkat? siapa tahu bisa nengokin ke Utrecht 🙂

    • Yup! Emang ribet yo.. gw juga belum tau nih bisa dapet visa MVV nya ato ngga.. kalo ga bisa ya gw paling ikutan summer course 6 bulan..

      Jadi, kata pihak sekolah, istri bisa dibawa, tapi memang harus lapor dari awal, jadi ketika pihak sekolah ngurus visa suami, mereka sekalian melaporkan ke Imigrasi kalo gw bakal ikut kesana sama suami. Semoga lancar nih.. gw pun harus menyertakan dokumen pernikahan yang udh diterjemahin ke bahasa Belanda, yo.. jadi ya sama aja kaya lu heuheu..

      Darto baru daftar,yo.. jadi belum tau keterima-ngga nya.. pengumumannya baru Januari, makanya minta doanya ya, kakek Fitorioo.. hehe

      Semoga lancar sekolah lu 😉 dan semoga kami bisa segera mampir2 kesana.. Amiiiiin..

  3. terimakasih atas info nya yg sangat bermanfaat,mau nanya Mbak apa saja syarat untuk permohonan visa au pair 🙂 God bless you

  4. mbak, bt terjemahan dijkarta ke bhsa inggris, bisa mnta informasi kontaknya mbak. saya aktenya di padang, dan skrng harus legalisr akte baru, jadi ribet jga harus balik kepadang, saat ini lagi dijkrta. thks ya mbak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s