Tentang Pencarian Jati Diri

Topik mengenai pencarian jati diri ini nampaknya akan selalu hangat dibicarakan oleh semua orang terutama mereka yang baru saja lulus perkuliahan. Hal ini dialami oleh Bella, teman SMA saya. Setelah lulus dengan predikat cumlaude, Bella menikah dan bekerja sebagai arsitek di Kota Jakarta. Saya bertanya tentang rencana dan hal-hal yang ingin dia capai dalam hidup ini, ternyata jawabannya cukup mengejutkan. Dari luar, Bella terlihat sangat fokus dalam menjalani hal yang sedang dia tekuni, bahkan semasa kuliahnya, dia terlihat sangat menikmati mengerjakan tugas-tugas dan ujiannya. Karena sikapnya yang seolah bahagia dengan dunia arsitektur, membuat saya berpikir bahwa cita-cita dan impiannya adalah menjadi seorang arsitek, mengikuti jejak ibunya. Tapi ternyata, profesi Bella dalam bidang ini semata-mata hanya karena tidak ingin menyia-nyiakan pendidikannya yang telah dijalani selama 4,5 tahun. Anehnya, sejak awal dia menyadari bahwa menjadi seorang arsitek bukanlah keinginannya. Permasalahan ini ternyata dialami oleh beberapa teman saya lainnya. Latar belakang pendidikan dan butuh uang menjadi alasan utama untuk tidak mengerjakan hal yang sebenarnya mereka inginkan. Di sisi lain, saya juga menemukan beberapa teman yang berprofesi hanya untuk membangun image diri dan prestige di mata orang lain.  Akibatnya, hasrat dan jati diri sesungguhnya terkubur dan tidak dipedulikan.

Menurut pengamatan saya, salah satu penyebabnya adalah kebiasaan mengacuhkan hasrat yang ada di dalam diri kita demi memenuhi kewajiban dan menjadi sosok ideal di mata masyarakat. Selama masa kuliah, mayoritas materi yang kita pelajari adalah teori dan praktek untuk pencapaian nilai IQ (Intelligent Quotient) yang tinggi. Sedikit sekali yang memberikan materi mengenai ESQ (Emotinal and Spiritual Quotient), atau bahkan tidak ada samasekali. Padahal dalam dunia kerja, 80%  kecerdasan yang dibutuhkan adalah ESQ (Zoro,2012).  Apa hubungannya dengan pencarian jati diri? Saat kuliah, kita seolah-olah dipaksa untuk mencapai nilai setinggi-tingginya, IPK 4,00 merupakan prestasi yang luarbiasa, dan lulus cumlaude merupakan segalanya. Hal-hal tersebut sudah menjadi ideal di mata masyarakat kita. Akibatnya, kita terdorong untuk fokus pada kepentingan akademis tanpa memperhatikan apa yang sebenarnya diri kita butuhkan. Kegiatan ini terus berulang selama bertahun-tahun hingga akhirnya kita melupakan hasrat yang sesungguhnya ada dalam diri kita. Padahal jika pengetahuan untuk IQ dan ESQ seimbang, seseorang akan lebih mengenal dirinya sendiri, dapat menjalani hidup dengan penuh kesadaran akan tujuannya diciptakan, dan lebih bahagia.

Lalu bagaimana cara menemukan hasrat dan jati diri kita yang sebenarnya?  Cerca Trova, seek and you shall find. Saya pernah membaca sebuah buku berjudul “The Seed” karya Jon Gordon. Buku itu bercerita tentang menemukan panggilan dan kebahagiaan dalam hidup. Panggilan dalam hidup lebih besar dari sebuah pekerjaan, panggilan ini melibatkan antusiasme yang menghasilkan kekuatan dan membuat semua manusia disekitar kita semakin kuat. Menemukan panggilan dalam hidup sama dengan menemukan alasan dan tujuan mengapa kita hidup di dunia ini. Dengan menemukan panggilan, kita pun menemukan jati diri kita.

Pencarian bisa diawali dengan hati, karena hati tidak pernah berbohong. Dia yang paling tahu apa yang sebenarnya kita inginkan. Dalam perjalanan pencarian panggilan, kita harus peka terhadap lingkungan dan kemunculan tanda-tanda kebaikan yang ada di sekitar kita. Tanda itu bisa berupa nasihat dari orang asing, impian kita, buku-buku, dan lainnya. Tuhan berkomunikasi dengan kita melalui berbagai cara, jika kita bersedia menerima, mencari, dan mengikuti tanda itu, mereka akan memandu kita ke arah yang tepat.

Mengingat hal-hal yang kita sukai di masa lalu juga membantu untuk menemukan panggilan dan jati diri kita. Misalnya, membuat daftar potongan peristiwa bahagia atau pekerjaan yang sangat kita nikmati ketika melakukannya. Daftar itu mempersempit pencarian kita dan memfokuskan pada hal-hal yang benar-benar kita sukai.

Memang pelaksanaannya tidak semudah itu, kita harus bisa membedakan antara kata hati dengan kata pikiran, karena pikiran selalu melibatkan logika dan ketika logika sudah berbicara, hasrat kita kembali terkubur. Saya telah menerapkan hal ini dan masih terus berproses. Mencari panggilan hidup tidak sama dengan mencari barang. Dalam perjalanannya, pencarian ini terjadi secara bertahap, cepat atau lambat tergantung dari masing-masing individu. Selain itu, kita juga harus berusaha dan mulai bertindak untuk mendapatkan apa yang kita cari.

Kembali pada teman saya, Bella, dia berencana akan melanjutkan studinya ke MBA. Walaupun dia belum menemukan jati diri sesungguhnya, tetapi dia mulai mencoba untuk terjun ke dunia yang dia sukai. Insyaallah, setiap tindakan baik akan mendekatkan kita pada apa yang kita cari. Do the best, let God do the rest.

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s