Bahagia itu Sederhana

Saat saya disibukan oleh daftar panjang “To Do” dan “To Buy”, saya menyadari  akan satu hal. Kesederhanaan.

Dalam perjalanan saya menuju rumah baru saya di Cimindi, saya melewati sebuah toko kayu. Tampaknya toko kayu itu menyatu dengan tempat tinggal pemiliknya. Di halaman depan, saya melihat gadis mungil berjilbab yang berumur kira-kira 7 tahun. Dia memegang sapu membersihkan kebun sambil bercanda bersama adiknya, dia tertawa lepas sambil sesekali mengumpulkan sampah-sampah, di wajahnya terlukis kebahagiaan. Hanya beberapa detik adegan tersebut,tapi saya mendapat banyak kesan dan makna. Banyak orang diluar sana mengeluarkan energi, waktu dan uang untuk mendapatkan kebahagiaan. Membeli gadget terbaru, pakaian dari desainer terkenal, mobil, rumah, liburan, nongkrong di cafe dan lain-lain, padahal kesederhanaan juga bisa membuat bahagia. Gadis cilik tadi menunjukkan kebahagiaan hanya dengan bermain bersama adiknya sambil mengerjakan tugasnya menyapu halaman – membantu orangtuanya. Tidak mengeluh, tidak terbebani, hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang anak. Mungkin dia tidak punya Ipad, Nintendo  wii, pakaian trendy, BB, dan barang-barang hip lainnya. Tapi toh, dia tetap bahagia. Iya, bahagia itu sederhana. Tidak perlu repot-repot kerja banting tulang hanya untuk beli ini itu. Justru, kebahagiaan batin itu ketika melihat senyum dan tawa tulus dari seseorang, apalagi jika senyum itu berasal dari tindakan kita.

Kebahagiaan juga bisa datang dari mensyukuri. Kadang, Kita terlalu sering melihat dan mendengar hal-hal yang sebenarnya indah di sekitar kita, sehingga keindahan itu sendiri menjadi hal yang biasa (misalnya terlalu sering ke pantai, sehingga melihat warna matahari terbenam di laut menjadi hal yang biasa) atau bahkan kita terlalu sibuk dengan pekerjaan dan permasalahan sehingga tidak memperhatikan keindahan itu. Padahal, jika kita mau lebih peka terhadap lingkungan sekitar, kita bisa melihat dan mendengar hal kecil yang bisa membuat kita bahagia. Bersyukurlah masih punya mata, sehingga kita bisa melihat pemandangan alam, nonton film, atau memandang wajah pasangan kita. Bersyukurlah kita masih punya telinga, sehingga bisa mendengarkan musik dan berbicara dengan teman kita. Bersyukurlah alat indera kita masih berfungsi. Hubungannya apa dengan kebahagiaan? Ya, semua hal yang bisa melepaskan kita dari kejenuhan dan stress tidak lepas dari campur tangan alat indera kita. Melihat senyuman tulus seseorang atau melihat pemandangan pantai dan gunung, pasti menggunakan mata. Mendengarkan musik sebagai relaksasi, pasti melalui telinga. Dan seterusnya… Sederhana bukan? Mensyukuri hal-hal yang sudah kita miliki, mendatangkan kebahagiaan. So, tidak perlu susah-susah mencari dimana kebahagiaan. Sudah ada di depan mata kita kok 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s