Kisah Sang Suami : Ketika Lengan Sudah Sebesar Paha

Kali ini saya akan menceritakan tentang perjalanan suami saya yang  berteman dengan berat badannya. Sebut saja nama lemaknya adalah Adonan. Saya pernah menyebut suami saya mirip dugong ketika dia berbaring di ruang TV.  Berat badannya memang naik sangat drastis ketika akan menikah dan menjadi berlipat ganda setelah menikah.  Mitos suami menjadi gemuk setelah menikah ternyata berlaku pada suami saya. Selain sebagai kurator muda yang berbakat, suami saya juga berbakat menemukan makanan yang enak-enak. Tidak heran ketika bertemu dengan saya, kami berdua sering berkencan di tempat makan.  Dan saat itulah datang si Adon dengan gayanya yang aduhai.

Ketika liburan keluarga, kami pergi ke Bali dan mengunjungi berbagai macam restoran. Lupa daratan dan tergiur dengan rayuan si Adon yang bisik-bisik dicelah makanan, kami berdua naik 10 kg. Pulang dari Bali, semua teman terpesona, terutama pada suami saya. “Waaw.. Lu gendut banget, To”. “Abis nikah, ko lu yang hamil sih, to?” dan seterusnya. Saat itu saya tidak menyadari kehadiran si Adon di sekitar suami saya, hingga akhirnya saya membuka folder foto-foto liburan di Bali. “Perasaan pas pergi ga ngajak Adon deh.. ko ujug2 muncul di foto sih?” Dan dimulailah distorsi perspektif pada objek-objek di foto tersebut. Mana lengan? Mana paha? Kenapa itu perut jadi bertingkat?  Keget melihat diri sendiri, suami saya – yang tidak rela dengan munculnya Adon, langsung berniat dalam hati dengan khusyuk. Niatnya adalah harus turun berat badan dan harus memusnahkan si Adon. Hampir setiap hari dia olahraga lari, kadang di treadmill kadang di sekitar rumah. Pagi, siang atau sore tidak masalah, pokoknya kapanpun ada waktu, suami saya selalu menyempatkan untuk lari. Tidak hanya olahraga, makanan pun diseleksi. Pagi makan buah, siang makan nasi seperti biasa dan malam makan buah lagi. Cemilan? No way. Ter-eliminasi-lah gumpalan godaan yang mengandung kalori lebih dari 100. Dia bahkan kuat iman membiarkan jelly Gomballen kesukaannya diatas meja untuk dimakan oleh ponakan-ponakannya.

Hampir tiap hari dia lapor pada saya berapa kalori yang telah dibakarnya. Kadang suami saya suka merasa bersalah jika satu hari dia lewati tanpa olahraga. Lebih merasa bersalah tidak olahraga daripada membiarkan tumpukan pakaian kotor di sudut ruangan begitu saja. Alhamdulillaaaaah, setelah dua bulan.. jerih payah, keringat, dan kerja kerasnya membuahkan hasil.. Adon pulang kampung dan suami saya turun 15 kg. Perutnya tidak buncit lagi dan lengannya sudah kembali ke ukuran normal. Horeee!!! Ini adalah bukti nyata dari quote “When there is a will, then there is a way”. Sekarang suami saya sudah bisa berdiri sendiri.. tanpa Adon.  Selamat ya, Rifandy Priatna.. saya bangga padamu

 

lenganmu? pahamu?

Rifandy masa kini tanpa si Adon

Advertisements

5 thoughts on “Kisah Sang Suami : Ketika Lengan Sudah Sebesar Paha

  1. sendainya suami saya punya niat untuk melangsing jg 😦
    setidaknya ‘niaaaatt’ dulu aja deh..huhuhu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s