Hai Rumah Baru! (Part 2)

Hai Rumah Baru (Part 2)

Sudah dua minggu kami menempati rumah baru ini, tapi ternyata menata rumah tidak ada habisnya. Walaupun kami sudah membuka dus barang satu persatu, tapi masih saja ada beberapa dus yang menumpuk di kamar tamu. Tapi kali ini, barang-barang tersebut milik Ibu saya, bukan milik Eyang. Di ujung kaki tangga tergeletak beberapa  frame foto  menunggu untuk digantung di dinding.  Karpet berukuran besar yang terhampar di ruang keluarga merindukan sofa dan coffe table. Beberapa pajangan rusak akibat pindahan duduk manis menunggu untuk diperbaiki. Satu persatu kami mulai membereskan dan menata barang-barang ini di tempat yang seharusnya.

Semakin lama saya tinggal di rumah ini, semakin saya sadar akan beberapa keanehan.  Saat itu kakak saya sedang menghias kamarnya, dia mengambil beberapa frame foto  untuk dipajang di kamar bawah. Ketika akan memaku dinding, pakunya mental. Kemudian terdengarlah suara jedag jedug yang cukup mengebohkan.  Dia  berusaha dengan kuatnya agar paku itu bisa masuk ke dalam dinding. Dan akhirnya kami menyadari, dinding ini hanya bisa ditaklukan oleh paku beton.. bahkan untuk frame ukuran mini pun, sang dinding harus dipaku beton. Saya baru mengerti sekarang kenapa di rumah ini banyak sekali paku betonnya.

Oke, sekarang kita lanjut ke pengaturan listrik yang sedikit ajaib. Saya menyangka exhaust fan di kamar mandi bawah rusak, karena  beberapa kali saklar ditekan, dia tetap tidak mau menyala. Hingga suatu hari, saya menyalakan lampu kamar mandi atas dan terdengarlah suara kipas exhaust  berputar.. What? Untuk menyalakan exhaust fan di bawah, harus menyalakan lampu kamar mandi atas? Saya tertawa dan cekikikan sendiri mengetahui hal ini.

Keajaiban terakhir adalah pengaturan sirkulasi udaranya. Di tiap kamar, terdapat ventilasi udara.. tidak hanya diatas jendela, tapi juga diatas pintu kamar. Ini baik dan cocok untuk rumah di daerah selatan di mana hawanya sedikit panas, tapi apa yang terjadi bila pengaturan sirkulasi seperti ini diterapkan di rumah daerah Bandung utara? Brrrr… setiap ruang rasanya seperti memakai AC dengan suhu 16 derajat. Suami saya yang biasanya tidur tidak pakai selimut, sekarang tiap malam terbungkus rapi oleh selimut, seperti bayi yang dibedong.  Iya, saya bersyukur kok dengan rumah baru ini. Hanya belum terbiasa dan masih beradaptasi saja.

Rumah ini masih berada dalam tahap perombakan, karena ibu saya ingin di kamarnya ada walk in closet dan kamar mandi. Mari bersabar menunggu rumah baru menjadi rumah yang nyaman untuk dihuni.

dus-dus di pojokan kamar tamu

hamparan karpet.. itu suami saya lagi nonton aki fahri almaut – kelelawar malam di Radioshow

ventilasi di setiap pintu ruang (kecuali kamar mandi tentunya)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s