Kehidupan Komunal di India

Seorang teman kuliah yang tinggal selama setahun di India, kembali ke Bandung dan berjumpa dengan saya di sebuah cafe.  Tidak ada yang berubah dari dirinya. Wajah manis yang selalu disertai senyuman, gerakannya yang gemulai dan bicaranya yang intelektual membuat saya serasa kembali ke masa kuliah dulu. Teman saya ini bernama Wiwid. Sebelum pindah ke India, dia bekerja sebagai desainer interior di sebuah biro arsitek Kuala Lumpur selama 2,5 tahun. Selesai masa kontrak, Wiwid dan suaminya pindah ke India. Mendengar cerita Wiwid selalu menginspirasi saya. Ternyata dibalik keindahan objek wisatanya, India sangat jauh berbeda dari apa yang saya pikirkan.

Tercatat sebagai salah satu Negara dengan kepadatan penduduk yang tinggi membuat masyarakat India memanfaatkan lahan semaksimal mungkin. Akibatnya, banyak tempat tinggal dibuat secara vertikal seperti rumah susun. Wiwid tinggal di kota Mumbai dalam sebuah flat dengan ukuran kamar tidak terlalu besar. Di flat ini, air hanya mengalir 2x sehari, jam 6 – 8 pagi dan jam 6 – 8 malam, jadi setiap pagi semua penghuni flat rajin menampung air untuk kebutuhan sehari-hari. Pernah suatu kali, Wiwid lupa mematikan kenop air sehingga kamarnya banjir setinggi 1 inci. Mendengar hal ini saya sangat bersyukur di tempat tinggal saya, air mengalir dengan derasnya tanpa harus susah payah menampung air.

Masyarakat India memiliki kebudayaan hidup secara komunal. Anak laki-laki harus tinggal di rumah dengan orangtuanya. Walaupun anak tersebut sudah menikah, dia tetap harus membawa istrinya tinggal di rumah orangtuanya, bersama dengan saudaranya.  Mungkin tidak masalah jika rumah orangtuanya besar dan mampu menampung manusia sebanyak itu. Tapi apa yang terjadi jika keluarga tersebut termasuk golongan kurang mampu? Pada kenyataannya, banyak keluarga besar tinggal di flat kecil yang hanya berisi ruang tamu, dapur dan kamar mandi. Mereka tidur di ruang tamu dengan menggelar karpet atau kasur. Tidurnya pun berhimpitan. Samasekali tidak ada kamar, akibatnya, tidak ada ke-privacy-an. Hal ini menjadi kebiasaan mereka dan terbawa hingga ke lingkungan sosial. Sudah merupakan hal yang biasa jika kita menemukan seorang office boy membuka dan mengacak-ngacak laci meja kerja kita di kantor atau melihat teman kantor kita mengambil makanan dari bekal kita saat makan siang.

Melihat tetangga sibuk mengurusi kehidupan pribadi orang lain juga merupakan hal yang wajar. Teman kerja Wiwid yang asli India pernah terlibat masalah keluarga yang berakhir di tangan orang lain. Padahal menurut saya, kejadian itu sangat sepele. Dalam kebiasaan India, jika anak laki-laki membelikan kain sari (kain tradisional India) untuk istrinya, maka dia juga harus membelikan untuk ibunya. Suatu hari, suami teman kerjanya Wiwid ini menghadiahkan istrinya kain sari, tapi tidak untuk ibunya. Ketika di rumah, sang mertua mempermasalahkan hal itu. Tidak bisa menjawab, sang istri dan mertua berselisih. Perdebatan ini tidak berakhir dengan damai, akhirnya pihak keluarga memanggil seseorang yang dituakan (setingkat Pak RT- lah). Walaupun bukan saudara sedarah, memanggil orang yang di-tua-kan sudah merupakan hal yang wajar. Nasib teman kerjanya Wiwid ini ada di tangan beliau, dia hanya bisa pasrah. Pada akhirnya dia pisah dengan suaminya, karena sang suami tidak bisa meninggalkan ibunya.

Di sisi lain, penduduk India memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. Mereka bangga dengan produk dalam negeri. Mereka mendengar lagu-lagu India setiap saat, menonton film India yang diputar di bioskop dan wanita-wanitanya selalu memakai kain sari. Saya sering menemukan wanita India yang tetap memakai kain sari, bahkan ketika tidak di negaranya sendiri. Jika saja mayoritas wanita Indonesia memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi – seperti memakai kebaya dan kain batik sehari-harinya atau  turut melestarikan tarian-tarian tradisional- pasti pengakuan karya bangsa Indonesia oleh Negara lain bisa dicegah.

Semoga suatu hari nanti saya bisa terbang ke India dan menceritakan budaya, kehidupan, serta kebiasaan masyarakatnya berdasarkan pengalaman saya sendiri. Terimakasih untuk Widyastuti atas sharing-nya J

Image

Ini salah satu flat di India (foto diambil dari koleksi pribadi Wiwid – http://www.darindonesia.blogspot.com)

Advertisements

2 thoughts on “Kehidupan Komunal di India

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s