Street style untuk hijabers?

17 Januari 2012

Saya adalah wanita penikmat musik cadas, seperti layaknya manusia aliran keras lainnya, hitam menjadi warna wajib keseharian. Sepatu boots, docmar, converse berbagai jenis mendominasi lemari sepatu saya. Kaos band, gelang spike, singlet putih, jeans robek2,dan  jaket kulit adalah image kepribadian saya. Rasanya, seperti itulah seorang Rhily yang saya kenal.

Semua berawal ketika saya memutuskan untuk berjilbab. Alhamdulillah, hati saya terpanggil untuk menjadi seseorang yang lebih baik.  Prosesnya memakan waktu yang cukup lama, sekitar setahun saya berfikir dan mamantapkan hati agar nanti setelah memakai  jilbab, saya tidak akan melepasnya lagi. Sulit bagi saya, karena seorang Rhily menyukai hal yang simple, sederhana, terutama dalam hal berpakaian. Kaos, jeans, dan converse. Sedangkan jilbab, butuh kesabaran extra. Menurut saya, melilitkan kain di kepala, jepi sana jepit sini, peniti, bros dan pernak pernik lainnya sangat sangat tidak simple dan ribet. Well, untungnya saya teringat kembali tujuan awal memakai jilbab. Ibadah, menjaga aurat, menjadi perempuan bermartabat, dan pada akhirnya untuk menjaga diri sendiri. Toh, segala sesuatu yang baik, pasti akan mendatangkan kebaikan juga.  Ya kan?

Setelah setahun meditasi, saya mulai pakai jilbab. Awalnya tidak nyaman, gerah dan panas. Saya melilitkan syal di kepala, tidak tahu jenis dan bahan kain yang nyaman. Ternyata proses nyaman dengan diri sendiri yang berjilbab pun membutuhkan waktu yang cukup lama. Godaan datang dari diri sendiri dan lingkungan. ada kalanya merasa terbatas melakukan hal-hal yang dulu sering saya lakukan. Bermusik menjadi tidak lepas. Bermain di pantai tidak bisa setiap saat.. Sempat terpikir untuk melepas jilbab kembali. Tapi kemudian saya tersadar, inilah cobaan saya untuk mencapai hal yang lebih baik.

Saya pikir, karena belum terbiasa maka tidak nyaman. Hampir setiap hari, saya browsing mengenai pakaian-pakaian muslim yang ngetren di kalangan hijabers.. dan lagi-lagi, semuanya bertema feminim dengan warna-warna pastel. Kemudian saya ganti hint dengan “punk hijab” muncullah wanita-wanita berjilbab hitam-hitam. Tapi, saya tetap tidak sreg dengan model jilbab yang mereka pakai.. intinya, tidak ada model pakaian berjilbab yang cocok dengan saya. Saya bukan fashion designer, saya bukan ahli wardrobe, dan saya tidak tahu jenis bahan kain.. tapi keadaan memaksa saya untuk menjadi itu semua setidaknya untuk diri sendiri, demi mengembalikan kepercayaan diri saya. Walaupun gaya berjilbab saya masih jauh dari syarat-syarat berkerudung syari’i, at least I try to be a good one. Mengutip teman saya di kantor “berjilbab itu adalah proses” dan inilah proses saya menuju jilbab yang sempurna. Sekilas gambaran diri saya di masa lalu dan di masa sekarang. Thx to Upitoz & Lya Heryanti

back then

Now

About these ads

4 thoughts on “Street style untuk hijabers?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s